Flek paru, penyakit apa tuh… Tuesday, Dec 18 2007 

Si kecil qeqe..dalam beberapa bulan ini…seringkali terkena flu dan pilek…tiap kali dibawa ke dokter biasanya dikasih obat flu/pilek + antibiotik…. sembuh….namun pilek itu kembali datang dalam bulan berikutnya….kembali ke dokter dan dikasih obat serupa… sembuh lagi…bulan berikutnya kembali pilek…. sehingga dokter menyarankan untuk tes darah dll untuk mengetahui penyakit yg sebenarnya… dokter menduga kemungkinan qeqe terkena flek paru…. maka mulai saat itu aku mencari info tentang FLEK PARU.

Akhinya qeqe kami bawa ke lab & ditest darah, tes mantoux dan rongten….hasilnya negatif… . Hasil ini kami bawa ke dokter & menurut beliau qeqe kemungkinan flek…(wah berarti harus minum obat selama 6 bulan… wah wah…betapa repotnya..kasihan lagi si qeqe). (more…)

Hidup adalah pilihan Monday, Oct 1 2007 

jafis.wordpress.com

Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata,”Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku dalam – dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku diatas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku.”

Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.

Bibit yang kedua bergumam,”Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tau, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana sangat gelap?dan jika kuteroboskan tunaske keatas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang?tunasku ini pasti akan terkoyak.

Apa yang kan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya ? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman.”

Dan bibit itu menunggu dalam, dalam kesendirian

Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaploknya segera.

Renungan : Memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri. kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena Hidup adalah Pilihan , maka………hadapilah itu dengan gagah. Dan karena Hidup adalah Pilihan, maka……….Pilihlah dengan Bijak.

Ayo Menulis Wednesday, Sep 19 2007 

Judul asli: Mengapa Kita Menulis?
Penulis: ibn ibrahim
dikutip dari: http://petualanganku.multiply.com

Jika Anda serius ingin menjadi penulis, pertanyaan paling penting yang harus pertama kali Anda jawab adalah mengapa, baru kemudian apa dan bagaimana. Anda perlu menggali sedalam-dalamnya niat Anda menjadi penulis. Kesadaran diri yang tinggi terhadap niatan tersebut akan memberikan Anda cukup energi untuk memulai proses menulis, dan mengatasi rintangan-rintangan dalam proses tersebut.

Saya mengibaratkan, kemampuan teknis adalah jurus-jurus yang harus Anda kuasai dengan baik jika ingin menjadi penulis handal. Namun, jurus-jurus saja tanpa tenaga tidak banyak berguna. Nah, bagi seorang penulis tenaga bersumber dari motivasi yang kuat, dari niatan yang akan terus menerus memberikan energi kepada Anda. Tentu saja sebaliknya, tenaga saja tanpa jurus akan melahirkan kualitas ‘gerakan’ yang serampangan, tidak efektif, dan tidak indah.

Menurut pengalaman penulis, sesungguhnya kemampuan teknis menulis telah kita dapatkan sejak kelas satu SD. Jika Anda lulus SMA, sebenarnya Anda sudah belajar tentang menulis selama dua belas tahun. Fakta bahwa masih banyak di antara pelajar yang gagap dalam menulis menunjukkan ada yang salah dalam proses belajar mengajar tulis menulis di sekolah kita. Faktor utamanya mungkin karena pelajaran yang diberikan hanya bersifat teoritis. Para siswa hanya belajar tentang menulis, dan bukannya belajar menulis. Faktor kedua adalah para siswa mungkin tidak menemukan alasan mengapa mereka harus menulis.

Kebanyakan buku tentang karang mengarang atau tulis menulis yang beredar di pasaran juga membahas aspek-aspek teknis. Nah, tulisan berikut mencoba menggali aspek nonteknis, aspek mengapa, dan aspek-aspek sebelum suatu tulisan lahir.

Tulisan ini sendiri banyak mengutip dari tulisan-tulisan lainnya. Namun terkadang penulis tidak ingat dengan pasti sumber referensinya. Jika ingat, penulis tentu akan mencantumkannya, jika tidak, penulis hanya akan menyebutkan siapa yang penulis kutip.

Penulis berharap tulisan berikut dapat memberikan sumbangan bagi pencerdasan orang banyak. Bagi Anda yang baru memulai, tulisan ini akan memberikan ‘inisialisasi’ bagi proses kreatif Anda. Bagi Anda yang sudah mahir, mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan perspektif yang baru.

Saya pribadi merasa masih jauh dari kategori produktif, hAndal, apalagi profesional. Rata-rata saya menulis satu artikel per pekan untuk BestMuslim, buletin yang saya kelola bersama keluarga saya. Kadang-kadang saya mengirim artikel ke majalah. Kadang dimuat kadang tidak. Saya belum membuat buku, dan hal itu masih menjadi obsesi buat saja. Namun, karena berkeyakinan bahwa tulisan berikut akan berguna jika disebarluaskan, saya tetap memberanikan diri menuliskannya.

Nah, mengapa kita menulis? Berikut adalah beberapa alasan yang bisa saya temukan:

1. Menulis adalah Salah Satu Langkah Menuju ke Keabadian

2. Menulis Berarti Menata Pikiran

3. Suatu Tulisan Berpotensi Tersebar Sangat Luas

4. Menulis itu Menyehatkan

5. Membantu Mendapatkan dan Mengingat Informasi Baru

6. Meniru Tradisi Para Ulama

Anda dapat menemukan alasan yang paling menggugah atau paling menggerakkan dari sejumlah alasan di atas. Jika tak ada di antara alasan yang cukup ‘memuaskan’ Anda, saya rasa Anda memang tidak atau belum ingin menjadi penulis.

1. Menulis adalah Salah Satu Langkah Menuju ke Keabadian

Karya-karya tulis,
Akan kekal sepanjang masa,
Sementara penulisnya,
Hancur terkubur di bawah tanah.

Kata-kata di atas penulis kutip dari buku Kritik Hadis, karya Ali Mustafa Yaqub. Kata-kata tersebut benar adanya. Contoh sederhana, sampai saat ini, penulis masih sering terinspirasi tulisan-tulisan Syekh Ibn Athaillah pada buku beliau Pencerah Kalbu, padahal beliau sudah wafat berabad-abad yang lampau. Masih banyak contoh-contoh lain karya para ulama terdahulu yang sampai sekarang masih menjadi referensi dan panduan umat. Sebut saja Hujjatul Islam Imam Ghazali, Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim al Jauzy. Pembaca bisa meneruskan sendiri daftar ulama-ulama lain yang sering menjadi rujukan umat. Di luar tulisan-tulisan keagamaan, penulis menaruh hormat kepada rekan-rekan yang telah menuliskan artikel-artikel teknologi informasi di situs www.ilmukomputer.com Penulis sering menemukan fotocopy artikel-artikel tersebut yang rupanya dimanfaatkan oleh para mahasiswa.

Pada subjudul ini penulis menggunakan kata keabadian, karena merujuk kepada hadits nabi tentang amal yang tiada terputus. Sesungguhnya apabila setiap anak Adam telah mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: shodaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang sholih yang senantiasa mendoakannya. Nah, setidaknya, menghasilkan tulisan masuk dalam kategori ilmu yang bermanfaat. Tulisan dapat menjadi semacam passive income (passive income merujuk kepada istilah yang digunakan Robert T Kiyosaki pada bukunya Cash Flow Quadrant. Istilah ini berarti penghasilan yang diperoleh tanpa harus bekerja, seperti deposito, reksadana dan lain-lain). Tatkala kita sudah tidak mampu beramal lagi, Allah masih mencatatkan pahala apabila tulisan kita masih menginspirasi orang lain untuk berbuat baik.

Perlu ditekankan di sini, perbuatan baik bukanlah semata mengerjakan ibadah-ibadah mahdloh. Ilustrasinya begini. Misalnya Anda menulis artikel tentang penggunaan CVS dan mengirimkannya ke situs www.ilmukomputer.com Kemudian artikel tersebut dimanfaatkan oleh seorang programmer dalam membuat repository untuk suatu aplikasi. Programmer tersebut memperoleh upah dari aplikasi yang dia buat. Upah tersebut, katakanlah, dipergunakannya untuk modal menikah. Nah, menikah adalah suatu perbuatan baik, dan bernilai ibadah jika diniatkan demikian. Programmer tadi memperoleh pahala atas ibadahnya, dan Anda, si pengirim artikel, yang mungkin tidak kenal sama sekali dengan programmer yang berbahagia tadi, dengan izin Allah akan memperoleh pahala juga. Indah sekali bukan?

Secara pribadi, bagi penulis ini adalah alasan yang paling memberikan motivasi. Karena penulis menyadari jatah usia kita di dunia amatlah singkat. Perlu upaya yang ‘cerdas’ agar dengan jatah yang singkat ini dapat memberikan kontribusi yang bermakna. Mengutip kata-kata Stephen R Covey pada bukunya First Things First, hanya kalau kita lebih berfokus pada pemberian sumbangan, dan bukan pada konsumsi bagi diri sendiri, kita dapat menciptakan konteks yang memungkinkan munculnya kedamaian dalam semua segi kehidupan kita. Dalam upaya meninggalkan warisan itulah kita menemukan makna dalam hidup, mencinta dan belajar.

2. Menulis Berarti Menata Pikiran

Berikut penulis kutipkan kata-kata Andrias Harefa dalam bukunya, Agar Menulis – Mengarang Bisa GAMPANG.

Bagi saya, mengarang adalah salah satu cara belajar. Banyak hal yang saya pelajari menjadi lebih kuat melekat dalam ingatan karena saya olah menjadi tulisan. Pada saat saya menulis, berbagai ide dan gagasan yang simpang siur harus mulai disusun secara sistematis agar dapat dipahami orang lain dengan baik.

Proses penyusunan ide-ide itu akan membawa saya pada pengenalan akan ide-ide orang lain dan pendapat pribadi saya terhadap ide-ide tersebut. Lalu saya harus belajar menyusun argumentasi untuk menopang ide saya agar masuk akal (rasional). Dengan demikian, keterampilan mengarang sesungguhnya mengembangkan sikap rasional dalam diri si pengarang itu sendiri.

Tegasnya, pengarang yang profesional harus akrab dengan pertanyaan, dan menjauhkan diri dari kecenderungan suka menghafalkan (membeo). Ia mencari jawaban, dan terus mencari jawaban yang lebih baik. Ia tidak mudah dipuaskan oleh jawaban-jawaban klise yang sloganistik, meski itu belum tentu sepenuhnya salah. Ia bersikap kritis terhadap banyak pendapat, bahkan terhadap pendapat-pendapatnya sendiri.

Menulis berbeda dengan berbicara. Tulisan yang kurang tertata akan lebih sulit dipahami (dan lebih menyebalkan) ketimbang pidato yang kurang tertata. Kalau kita terbiasa menulis, maka kita ‘memaksa’ otak kita untuk terbiasa berpikir sistematis. Jika yang kita tulis artikel ilmiah, kita bahkan harus terbiasa referensial alias bertanggung jawab untuk menyebutkan sumber-sumber tulisan kita.

Dalam bukunya Quantum Writing, Hernowo menuliskan beberapa teknik baru menulis buku. Teknik-teknik tersebut adalah:

1. Menulis-Mengalir dengan Menggunakan Metode Peta-Pikiran

2. Menulis-Dinamis dengan Menggunakan Iringan Musik

3. Menulis-Sinergis Gaya Quantum Learning

4. Menulis-Super Gaya Accelerated Learning

Meskipun berbeda dalam gaya, semua metode di atas pada dasarnya memiliki kesamaan, yaitu menata pikiran.

Lalu apa manfaat pikiran yang tertata bagi kita? Kembali kepada Andrias Harefa, pikiran yang tertata atau yang ia istilahkan rasional, amatlah penting. Rasionalitas adalah salah satu ciri utama manusia yang manusiawi. Kalau orang tidak biasa menggunakan akal sehat, hidupnya akan lebih banyak dipengaruhi oleh mitos-mitos, dongeng-dongeng, isu-isu, dan khayalan yang tak jelas juntrungan-nya. Dalam konteks makro, suatu masyarakat bangsa yang tidak terlatih untuk bersikap rasional akan jatuh pada kecenderungan membudayakan kekerasan otot dan senjata. Yang berlaku adalah hukum rimba.

Secara pribadi, penulis berpendapat, dengan pikiran yang tertata, kita telah menggunakan pikiran sesuai dengan yang Allah kehendaki. Allah sendiri berulang kali menyerukan dalam AlQuran agar kita – para manusia – menggunakan akal, untuk berpikir, dan bertadabbur. Nah, menulis adalah salah satu bentuk pemenuhan seruan itu. Dan bukankah para ulama umumnya produktif dalam menulis?

3. Suatu Tulisan Berpotensi Tersebar Sangat Luas

Jika Anda menuliskan suatu artikel, dan mengirimkannya lewat imel kepada – katakanlah – lima milis yang Anda ikuti, berarti Anda sudah mengirimkan artikel kepada lima puluh orang, dengan asumsi satu milis terdiri dari sepuluh anggota.

Jika separuh saja dari anggota setiap milis tadi menyebarkannya kepada lima milis lainnya yang berbeda, berarti potensi orang yang akan membaca artikel tadi adalah 5 milis X 5 orang X 5 milis X 10 orang = 1250 orang. Lanjutkan lagi jika sepuluh persen saja dari jumlah terakhir melanjutkannya kepada milis-milis lain …!

Inilah salah satu kelebihan dari tulisan, ketimbang kata-kata. Salah satu motivasi terkuat penulis berkomitmen menerbitkan buletin sepekan sekali adalah kemampuan sebaran suatu tulisan. Saat ini buletin yang penulis kelola terbit lebih dari seribu eksemplar setiap pekannya. Ini berarti setiap pekan penulis telah melakukan tabligh kepada sekitar lebih dari seribu orang. Hal ini kurang lebih setara dengan kultum kepada seribu orang jamaah (walau tentu sentuhan bahasa lisan memiliki kelebihan-kelebihan tersendiri).

Namun, berbeda dengan kultum yang dibatasi ruang – karena jamaahnya harus terkumpul di satu tempat – tulisan tidak harus dibaca berbarengan oleh pembacanya. Pembaca dapat membaca kapan saja ia sempat. Tulisan juga dapat dibaca ulang, dan dibaca lagi oleh orang lain. Tidak sampai disitu, tulisan lebih otentik untuk dikutip lagi sebagai bahan pada tulisan lain.

Bayangkan ‘keuntungan’ yang dapat Anda peroleh, apabila satu persen saja dari pembaca Anda memperoleh hidayah (baca: terinspirasi berbuat kebaikan) setelah membaca tulisan yang Anda buat. Barangkali, seperti kata hadits, hal itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya.

4. Menulis itu Menyehatkan

Menurut Fatima Mernissi, sebagaimana dikutip Hernowo dalam bukunya Quantum Writing, menulis itu menyehatkan.

Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungannya yang luar biasa! Dari saat Anda bangun, menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan segera lenyap dan kulit Anda akan terasa segar kembali.

Seberapa jauh kebenaran kata-kata tersebut, saya pribadi belum membuktikannya. Namun, ternyata telah ada penelitian yang membuktikan dampak menulis bagi kesehatan. Berikut petikan dari buku Quantum Writing,

Pada tahun 1990-an, seorang psikolog yang telah melakukan penelitian selama lima belas tahun tentang pengaruh upaya membuka diri terhadap kesehatan fisik, menerbitkan sebuah buku berjudul Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions. “Buku Opening Up ini membahas bagaimana upaya mengungkapkan segala pengalaman yang tidak mengenakkan dengan kata-kata bisa mempengaruhi pemikiran, perasaan, dan kesehatan tubuh seseorang. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman saya sebagai peneliti, bukan sebagai dokter atau terapis,” tulis Pennebaker di awal “Prakata” untuk buku karyanya.

Pennebaker menunjukkan kepada kita, sekali lagi, pelbagai manfaat menulis sebagaimana tersaji berikut ini:

1. Menulis menjernihkan pikiran. Saat memulai tugas yang rumit, cobalah untuk menuliskan pikiran dan perasaan Anda. Para ahli hipnotis profesional sering menggunakan teknik ini untuk mempercepat proses hipnotis. Pada dasarnya, mereka meminta klien mereka untuk menuliskan pikiran dan perasaan mereka pada saat itu. Saat klien mereka selesai menulis, ahli hipnotis ini meminta klien untuk merobek kertas yang mereka pakai dan membuangnya. Hal ini merupakan sebuah tindakan simbolis bagi penjernihan pikiran.

2. Menulis mengatasi trauma yang menghalangi penyelesaian tugas-tugas penting. Sesudah terjadinya sebuah kemelut yang besar, orang-orang cenderung dihantui kejadian itu. Dalam memikirkan trauma itu, dan bahkan dalam upaya untuk tidak memikirkannya, orang-orang akan menggunakan kapasitas pikiran-pikirannya yang terbesar. Oleh sebab itu, mereka akan menjadi pelupa dan tidak bisa memusatkan perhatian mereka pada pekerjaan-pekerjaan baru yang besar. Menulis tentang trauma akan membantu dalam mengelola trauma, dan dengan demikian membebaskan pikiran untuk menangani tugas-tugas lainnya.

3. Menulis membantu memecahkan masalah. Karena menulis mendorong proses integrasi informasi, maka menulis bisa membantu memecahkan masalah-masalah yang rumit. Jika seseorang menulis dengan bebas tentang sebuah masalah yang rumit yang sedang ia hadapi, ia akan lebih mudah untuk mendapatkan pemecahannya. Ada beberapa alasan untuk hal ini. Salah satunya adalah bahwa menulis memaksa orang-orang memusatkan perhatian mereka lebih panjang pada satu topik tertentu daripada kalau mereka hanya memikirkannya. Karena menulis lebih lambat daripada berpikir, setiap gagasan harus dipikirkan dengan lebih terperinci. Menulis lebih bersifat “linier” daripada berpikir, yaitu bahwa menulis memaksa suatu gagasan untuk ditranskripkan sebelum gagasan lainnya mulai dipikirkan.

Singkatnya, menulis bisa menjadi sebuah kemampuan yang sangat berharga dalam mempelajari dan menghadapi dunia. Pada kesempatan yang tepat, menulis bisa meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Meskipun bukan suatu obat yang serba manjur, penggunaan kegiatan menulis secara bijaksana bisa memperbaiki kualitas kehidupan bagi sebagian besar dari kita.

5. Membantu Mendapatkan dan Mengingat Informasi Baru

Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian tentang kegiatan mencatat, menulis catatan yang penuh pemikiran, atau, dalam kasus anak-anak kecil, coretan-coretan, membantu orang-orang untuk mendapatkan dan mengingat kembali gagasan-gagasan baru. Menulis bisa membantu memberikan suatu kerangka yang bisa dipakai untuk memahami perspektif baru dan unik dari orang lain. Bahkan menulis tentang hal tersebut akan membuat gagasan-gagasan semakin jelas dan mudah diingat. Demikian hasil penelitian Pennebaker sebagaimana dikutip Hernowo dalam bukunya Quantum Writing.

Dengan kata lain, menulis memudahkan dalam proses belajar. Kita semua tahu, belajar adalah sesuatu yang utama dalam Islam. Segala sesuatu yang memudahkan kita dalam proses belajar dengan sendirinya menjadi utama pula. Di sisi lain, banyak di antara kita yang proses belajarnya hanya diperoleh ketika melewati pendidikan formal di sekolah. Begitu lulus, proses belajar mereka pun terhenti. Simaklah kata-kata Stephen R Covey berikut, dalam bukunya The Seven Habits of The Highly Effective People,

Sebagian besar dari perkembangan mental dan disiplin studi kita berasal dari pendidikan formal. Tapi segera sesudah kita meninggalkan disiplin eksternal sekolah, banyak dari kita membiarkan otak kita terhenti pertumbuhannya. Kita tidak lagi membaca secara serius, kita tidak menjajagi subjek baru secara mendalam di luar bidang aktifitas kita, kita tidak berpikir secara analitis, kita tidak menulis – sedikitnya tidak kritis atau tidak dengan cara tertentu menguji kemampuan kita mengekspresikan diri dalam bahasa yang baik, jelas dan ringkas. Sebaliknya, kita malah menghabiskan waktu kita menonton TV.

Penelitian yang masih berlanjut menunjukkan bahwa di kebanyakan rumah, televisi menyala sekitar tiga puluh ima sampai empat puluh lima jam seminggu. Jumlah waktu yang sama banyaknya dengan yang banyak orang gunakan untuk pekerjaan mereka, lebih banyak dari waktu yang digunakan untuk sekolah. TV adalah pengaruh sosialisasi yang paling kuat. Dan ketika kita menonton, kita menjadi subjek dari semua nilai yang diajarkannya. Ia dapat sangat mempengaruhi kita dengan cara yang sangat samar dan tidak kentara.

Dalam keluarga kami, kami membatasi kegiatan menonton televisi sampai sekitar tujuh jam seminggu, yaitu rata-rata satu jam sehari. Kami mengadakan rapat keluarga untuk membicarakan hal itu dan melihat beberapa data sehubungan dengan apa yang terjadi di rumah karena pengaruh televisi. Kami mendapatkan bahwa dengan mendiskusikannya sebagai satu keluarga pada saat tak seorang pun bersikap defensif atau argumentatif, orang-orang mulai menyadari penyakit ketergantungan karena menjadi kecanduan pada opera sabun atau diet tetap acara tertentu.

6. Meniru Tradisi Para Ulama

Ketika mahasiswa, penulis sering berseloroh dengan teman-teman pengurus Musholla, kecepatan menulis Dr Yusuf Qardlawi lebih cepat dari pada kecepatan kita membaca. Belum usai kami membaca satu buku beliau, sudah terbit buku berikutnya. Ini memang bukan asal gurauan. Seingat penulis, buku beliau yang pertama-tama penulis baca adalah Islam Ekstrim. Hampir berturut-turut muncul buku-buku berikutnya, Prioritas Gerakan Islam, Fiqih Ikhtilaf, Sabar di Dalam AlQuran, Ijtihad Kontemporer, dan lain-lain (terus terang saya kesulitan mengingat persis judul-judulnya). Saat menikah, penulis bahkan mendapat hadiah dua jilid tebal Fatwa-fatwa Kontemporer (yang hingga sekarang belum usai saya baca). Dr. Yusuf Qardlawi memang fenomenal. Beliau seperti tidak pernah kehabisan bahan untuk menulis, dan selalu memiliki stamina untuk berproduksi. Padahal beliau tentulah orang yang teramat sibuk mengingat da’wah beliau yang berskala internasional.

Di Indonesia, karya ulama yang pernah penulis baca adalah karya Dr Quraish Shihab, Membumikan AlQuran dan Wawasan AlQuran. Selain itu, beliau juga telah menghasilkan kitab tafsir Al Misbah, dan buku kecil berjudul Lentera Hati.

Sedangkan ulama-ulama salaf seperti menjadikan karya-karya tulis sebagai tradisi ‘keulamaan’ mereka. Nama mereka dapat sampai kepada kita menembus rentang waktu berabad-abad, melewati berbagai dinasti dan kerajaan, menerobos masa-masa jatuh bangunnya umat Islam, karena karya-karya mereka yang jenius. Betapa tidak, meski telah berlalu ratusan atau bahkan hampir seribu tahun, tulisan mereka masih segar dan tetap aktual. Sebut saja Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, atau kitab-kitab fiqih karya empat ulama mazhab. Berjalan-jalanlah ke toko buku. Kita masih bisa menemukan karya Ibn Taimiyyah, Ibnul Qoyyim al Jauziyah dan Ibn Athaillah yang hidup sekitar abad ketujuh hijriyah

Yang hendak penulis sampaikan di sini adalah kita dapat meniru tradisi besar tersebut sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Kecintaan mereka terhadap ilmu – antara lain diwujudkan dengan menulis – telah mengangkat derajat mereka di mata Allah, dan memberikan sumbangan yang tiada tara bagi umat dari jaman ke jaman.

Allah akan mengangkat derajat orang-orang beriman, dan derajat orang-orang berilmu, beberapa derajat.

Sabrul Jamil
Dimuat di buletin bestmuslim

Pengin Rumah… Thursday, Sep 6 2007 

Ngomong-ngomong tentang rumah, aku jadi tersenyum sendiri jika mendengar celotehan & keinginan anak-anak. dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah kontrakan kami, ketika melintas di depan sebuah rumah berlantai dua & berhalaman luas, si tengah yg masih TK kecil berkomentar “…aku pengin rumah tingkat seperti itu lho…halamannya luas, ada taman bunganya….”.

aku hanya tersenyum aja mendengar keinginnya dan menjawab ”ya, amiin…”

dilain waktu ketika aku antar ke kolam renang..si tengah ini berkomentar lagi…” besok kalo kita punya rumah… yang ada kolam renangnya ya…kan enak kalo ada kolam renangnya..” seperti biasa aku hanya mengiyakan, “ya amiin…kalo gitu mbak berdoa aja pada Alloh ya…agar kita bisa punya rumah seperti yang mbak inginkan.”

Dilain waktu, ketika kami sedang bersantai,  permaesuriku  berkata..”lihat tuh diatas…mulai banyak sarang laba-laba….mbok dibersihkan tho..”. “ya besok kalo libur kita bersihan..ok?. jawabku sekenanya.

Di suatu waktu aku berkunjung ke rumah seorang teman lama (sama-sama kontraktor rumah). Dia & keluarganya menempati sebuah rumah baru di sebuah dusun, sehingga saking barunya….ditemboknya masih terlihat jelas tonjolan-tonjolan bata merah…. karena memang belum dihaluskan (belum dilepo dlm bhs jawanya)…. jika melihat ke atas maka akan terlihat jelas warna gentingnya yg merah…yach karena memang tanpa eternit….  Trus lantainya adalah semen kasar….yang sebagiannya diberi karpet plastik diatasnya agar lebih nyaman. Begitulah kondisi rumahnya….sederhana sekali… tapi ternyata penghuninya adalah orang-orang yang bahagia… ”..alhamdulillah kami bahagia…” begitu kata sang istri.  ”kami bersyukur dengan nikmat Allah ini….meskipun hanya rumah kontrakan sederhana seperti ini”…..alhamdulillah kami punya tempat untuk berteduh dari panas & hujan….

tempat untuk beristirahat, agar kami memiliki energi yang fresh …tempat untuk mendidik anak-anak kami dengan kesederhanaan dan kebersahajaan….”  aku terdiam beberapa saat… hatiku membenarkan apa yang disampaikannya. Dalam perjalanan pulang suara hatiku berkata…..yach memang kalau selalu positive thingking dan pandai bersyukur, insyaAllah kebahagiaan hidup akan kita raih. Benarlah firman Allah Swt yang berulang-ulang disampaikan dalam surat Arrahman…

fabiayyiaalaairabbikumaatukadzibaan (“maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?”)…

Astaghfirullah….ampuni aku ya Allah…betapa seringnya hamba melalaikan nikmatMu…

Ya Allah jadikanlah aku, istri, anak dan keluargaku orang-orang yg pandai mensyukuri nikmatMu..Amiin.

Black Hole Tuesday, Jul 31 2007 

blackholes_index.jpg

Abad ke-20 menyaksikan banyak sekali penemuan baru tentang peristiwa alam di ruang angkasa. Salah satunya, yang belum lama ditemukan, adalah Black Hole [Lubang Hitam]. Ini terbentuk ketika sebuah bintang yang telah menghabiskan seluruh bahan bakarnya ambruk hancur ke dalam dirinya sendiri, dan akhirnya berubah menjadi sebuah lubang hitam dengan kerapatan tak hingga dan volume nol serta medan magnet yang amat kuat. Kita tidak mampu melihat lubang hitam dengan teropong terkuat sekalipun, sebab tarikan gravitasi lubang hitam tersebut sedemikian kuatnya sehingga cahaya tidak mampu melepaskan diri darinya. Namun, bintang yang runtuh seperti itu dapat diketahui dari dampak yang ditimbulkannya di wilayah sekelilingnya. Di surat Al Waaqi’ah, Allah mengarahkan perhatian pada masalah ini sebagaimana berikut, dengan bersumpah atas letak bintang-bintang:
Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. (QS. Al Waaqi’ah, 56: 75-76)

Istilah “lubang hitam” pertama kali digunakan tahun 1969 oleh fisikawan Amerika John Wheeler. Awalnya, kita beranggapan bahwa kita dapat melihat semua bintang. Akan tetapi, belakangan diketahui bahwa ada bintang-bintang di ruang angkasa yang cahayanya tidak dapat kita lihat. Sebab, cahaya bintang-bintang yang runtuh ini lenyap. Cahaya tidak dapat meloloskan diri dari sebuah lubang hitam disebabkan lubang ini merupakan massa berkerapatan tinggi di dalam sebuah ruang yang kecil. Gravitasi raksasanya bahkan mampu menangkap partikel-partikel tercepat, seperti foton [partikel cahaya]. Misalnya, tahap akhir dari sebuah bintang biasa, yang berukuran tiga kali massa Matahari, berakhir setelah nyala apinya padam dan mengalami keruntuhannya sebagai sebuah lubang hitam bergaris tengah hanya 20 kilometer (12,5 mil)! Lubang hitam berwarna “hitam”, yang berarti tertutup dari pengamatan langsung. Namun demikian, keberadaan lubang hitam ini diketahui secara tidak langsung, melalui daya hisap raksasa gaya gravitasinya terhadap benda-benda langit lainnya. Selain gambaran tentang Hari Perhitungan, ayat di bawah ini mungkin juga merujuk pada penemuan ilmiah tentang lubang hitam ini:

Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan (QS. Al Mursalaat, 77: 8 )

Selain itu, bintang-bintang bermassa besar juga menyebabkan terbentuknya lekukan-lekukan yang dapat ditemukan di ruang angkasa. Namun, lubang hitam tidak hanya menimbulkan lekukan-lekukan di ruang angkasa tapi juga membuat lubang di dalamnya. Itulah mengapa bintang-bintang runtuh ini dikenal sebagai lubang hitam. Kenyataan ini mungkin dipaparkan di dalam ayat tentang bintang-bintang, dan ini adalah satu bahasan penting lain yang menunjukkan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah:
Demi langit dan Ath Thaariq, tahukah kamu apakah Ath Thaariq? (yaitu) bintang yang cahayanya menembus. (QS. At Thaariq, 86: 1-3)

sumber : www.cyberdakwah.net

« Previous PageNext Page »