Si kecil qeqe..dalam beberapa bulan ini…seringkali terkena flu dan pilek…tiap kali dibawa ke dokter biasanya dikasih obat flu/pilek + antibiotik…. sembuh….namun pilek itu kembali datang dalam bulan berikutnya….kembali ke dokter dan dikasih obat serupa… sembuh lagi…bulan berikutnya kembali pilek…. sehingga dokter menyarankan untuk tes darah dll untuk mengetahui penyakit yg sebenarnya… dokter menduga kemungkinan qeqe terkena flek paru…. maka mulai saat itu aku mencari info tentang FLEK PARU.

Akhinya qeqe kami bawa ke lab & ditest darah, tes mantoux dan rongten….hasilnya negatif… . Hasil ini kami bawa ke dokter & menurut beliau qeqe kemungkinan flek…(wah berarti harus minum obat selama 6 bulan… wah wah…betapa repotnya..kasihan lagi si qeqe).

akhirnya aku cari second opinion …seorang dokter mengatakan bahwa kemungkinan si qeqe kena rhinitis alergika…jadi pileknya disebabkan dia alergi terhadap debu, asap, dingin dll…apalagi tes mantaouxnya negatif. wah kalo yg ini kok kayaknya saya setuju…

nah apa sih sebenarnya FLEK PARU itu?…berikut ini aku kutipkan artikelnya…

Flek Paru, apa iya ?
Diterbitkan April 24, 2007 Artikel , Health , Health Informatic , Kedokteran , Kesehatan , Reviews , Salah Kaprah
Penulis: Cak Moki (http://cakmoki86.wordpress.com)

Beberapa tahun belakangan ini, hampir dimana-mana istilah Flek Paru mencuat kembali. Sudah terlalu banyak anak dengan keluhan batuk lama didakwa sebagai flek paru dan berlanjut pada pemberian obat TBC selama 6 bulan, 12 bulan hingga 2 tahun.

Saking takut dan nurutnya orang tua, atau mungkin karena minimnya informasi, atau merasa tidak ada jalan lain, maka para orang tua manut saja si anak dijejali obat TBC sekian lama, plus embel-embel keharusan minum obat bangun tidur pagi.

IDAI sudah memperingatkan hal ini, yakni kecenderungan dokter mendakwa flek paru. Beberapa dokter tak tahan menggugat mempertanyakan keabsahan diagnosa flek paru, termasuk beberapa orang tua ikut meragukannya.

Tak soal jika memang TBC.
Bagaimana jika ternyata bukan ? Bagaimana jika ternyata asma ? Bagaimana jika batuk lain yang bukan TBC ?

Lagi-lagi, informasi menjadi salah satu kata kunci untuk menjawabnya.

FAKTA BERBICARA
Sejak sekitar tahun 2000-an di daerah kami, kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, perusahaan kayu lapis masih jaya-jayanya. Beberapa klinik Perusahaan menjadi ajang rebutan para dokter. Penulis nggak ikut-ikut kendati mereka (pihak perusahaan) melayangkan permohonan untuk menjadi dokter klinik perusahaan.

Saat itu ada kecenderungan, para dokter perusahaan menjalin “kerja sama” dengan dokter “tertentu”. Entah kebetulan atau booming, setiap anak dengan batuk lama dan pada pemeriksaan radiologis (rotgen) menunjukkan kesan: Bronkitis atau bronkopnemonia ditambah suspect (tidak menyingkirkan kemungkinan) TBC atau biasa disebut suspect spesifik, tak ayal si anak menuai hadiah diagnosa TBC dan disusul dengan pengobatan jangka panjang.

Tak peduli imunisasi lengkap, tak peduli si anak tak nampak sakit, tak peduli si anak lincah pencilakan, pokoknya ™ FLEK Paru dan minum obat jangka lama.

Tak hanya beberapa anak, tak hanya belasan anak, puluhan sodara-sodara !!!
Untungnya di kota kami hanya ada 1-2 dokter yang hobi mendiagnosa flek dengan pesan TIDAK BOLEH periksa ke dokter lain. *ahhhhh*

Di kota kelahiran penulis, Jember, ternyata sami mawon. Seorang anak tetangga yang menderita asma mulai kakek, dan ibunya, tak luput dari dakwaan flek dan sudah minum obat 18 bulan, masih juga batuk dan ngak-ngik saat malam tiba. (sekali nebus obat ratusan ribu)
Terpaksa penulis anjurkan untuk menghentikannya, ganti obat asma.
Dia tidak sendiri, dalam satu lingkungan, beberapa anak dengan batuk lama, rata-rata didakwa flek dan mendapatkan obat TBC.

Tetangga depan rumah di Palaran, kedatangan ponakan 2 balita dari Jakarta. Batuk lama, sembuh 2 minggu kumat lagi, kadang sembuh sebulan lalu batuk lagi sampai 1 minggu lebih. Keduanya membawa obat TBC. Keduanya juga didakwa menderita flek dan sudah minum obat setahun lebih.
Tante dan om-nya yang tetangga depan rumah, bertanya-tanya berobat setahun lebih koq masih botak-batuk, krak-krok, ngiklik.

R E L A S I

Beberapa kali penulis konsultasi dan mendiskusikan fenomena flek kepada seorang sejawat DSA di Surabaya, kakak ipar di Magelang yang juga DSA dan ahli paru di kota kami. Beliau-beliau hanya tertawa sambil mengatakan: “tidak semudah itu”. Dan tentu ada komentar serta pendapat yang kurang pantas dipublikasikan.

SIKAP ORANG TUA
Beragam ekspresi dan pertanyaan menggelayut di benak para orang tua ketika anaknya didakwa flek dengan keharusan minum obat selama 6 bulan.

Pertama: orang tua bangga lega karena merasa sudah ketemu penyakitnya. Mereka rela membayar berapapun setiap bulan dan berapa lamapun berobat. Pada kelompok ini kadang ada sebagian pindah berobat ketika setelah pengobatan 2 tahun si anak tetap batuk-batuk.

Kedua: orang tua terkejut, merasa tidak ada yang TBC di sekitarnya. Karena ingin sembuh, tetap nurut minum obat TBC selama 6 bulan. Ketika 6 bulan berlalu tetap batuk dan dikatakan belum sembuh tetap mau melanjutkan minum obat.

Ketiga: orang tua setengah percaya setengah tidak percaya saat dikatakan flek dan harus minum obat TBC selama 6 bulan. Diam-diam mereka mencari second opinion untuk meyakinkan benar tidaknya si anak menderita flek (TBC).

efek dari missdiagnosa tentang TB dengan overdiagnosa TB didaerah indonesia tercinta yg msh endemis ini, manakah yg paling memberikan efek buruk paling banyak?

Menurut saya, secara umum overdiagnosa TB ya karena missdiagnosa, karena bukan TB didiagnosa TB … ini umum lho.

Nah, jika yang dimaksud missdiagnosa adalah penderita TB tapi tidak didiagnosa TB, saya rasa tidak ada satupun yang berani membuat komperasi tanpa data akurat, kecuali jika hanya beropini. Inipun akan pro-kontra. Tentu keduanya memiliki dampak buruk.

Yang pertama (missdiagnosa) beresiko penyebaran, sedangkan yang kedua (overdiagnosa) beresiko resistensi, selain biaya dan waktu pengobatan yang panjang.
Keduanya tidak serta merta dapat dibandingkan karena variabelnya beda, kecuali dilakukan pendekatan statistik sebagai parameter.

Dari beberapa pasien yang didakwa TB Paru dan saya rujuk ke Spesialis Paru di kota kami, tidak satupun yang TB Paru, so..
Di luar itu, perlu diingat bahwa ada satu variabel penting yang sering dilupakan, yakni pasien (dan keluarganya). Mereka bukan obyek lho, melainkan makhluk hidup yang punya harkat.
Apakah mereka layak begitu mudahnya didakwa TB Paru lantas “dipenjara” dengan masa pengobatan yang mestinya tidak mereka alami?
beberapa kali ditemukan anak penderita asma diberikan obat TB 6 bulan, dilanjutkan lagi 9 bulan bahkan 2 tahun dan wa akhirul kalamun, setelah selesai dan dinyatakan sembuh, tak lama kemudian kambuhlah batuk dan sesaknya setelah ada faktor pencetus. Nah !!!

Bagi sejawat yang tidak pernah bergaul dan bertamu ke masyarakat kebanyakan di kampung-kampung, mana tahu fenomena dan keluhan pasien terdakwa TB Paru yang seperti ini ?
Oya, saya sudah sering mempertanyakan dan memunculkan masalah ini di forum terbuka yang melibatkan banyak pihak, bukan hanya internal kesehatan. Mengapa ? Supaya kejujuran, karena salah satu hakikat aplikasi ilmu kedokteran adalah “kejujuran” dalam arti jangan ada penipuan.

Memang upaya seperti ini tidak mudah dan selalu banyak tantangan wa bil khusus dari kalangan internal medis.

Namun itu hanya riak kecil, yang pada saatnya nanti jika masyarakat kita sudah pada pintar, riak-riak tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Maaf ini pendapat saya, yang merasa tidak hanya hidup di dunia hanya untuk mencari uang, namun ada saatnya kita dimintai pertanggung jawaban.

Thanks